Konseling Sebaya: Teman Jadi Konselor?

Oleh Aisyah Nathania dan M. Rhenaldy Wijaya


Kehidupan perkuliahan menawarkan mahasiswa banyak pilihan, seperti pengalaman dan teman-teman baru yang tentunya menyenangkan. Akan tetapi, tidak jarang akan ada saat di mana kita dihadapkan dengan masalah yang bertubi-tubi. Nah, ketika berhadapan dengan permasalahan seperti itu, ada baiknya untuk tidak kita pendam dan membagikan cerita terkait permasalahan tersebut untuk mengurangi beban kita. Salah satu caranya adalah dengan bercerita ke teman. Tidak hanya itu, kamu juga bisa mempertimbangkan pilihan untuk melakukan konseling ke tenaga profesional. Namun disayangkan tidak semua orang cukup beruntung untuk mendapatkan akses konseling dengan tenaga profesional akibat terhalang oleh biaya atau karena segan. Oleh karena itu, salah satu solusi untuk mahasiswa yang membutuhkan akses konseling tanpa dipungut biaya dan akses yang mudah adalah konseling sebaya.

Konseling adalah suatu proses pemberian bantuan melalui wawancara oleh seorang ahli terhadap individu atau kelompok untuk menyelesaikan masalahnya. Dari pengertian tersebut, konseling sebaya dapat diartikan proses pemberian bantuan oleh orang yang berusia sama atau dekat dengan individu atau kelompok yang ingin menyelesaikan masalahnya. Konselor sendiri adalah seorang ahli yang dipermintakan bantuan oleh individu atau kelompok untuk menyelesaikan masalahnya. Sedangkan konseli adalah individu atau kelompok yang melakukan konseling atau meminta bantuan seorang konselor untuk menyelesaikan masalahnya. “Konseling sebaya merupakan salah satu upaya untuk memberikan layanan kesehatan mental yang lebih menyeluruh kepada orang yang membutuhkan akses ke layanan kesehatan mental. Hal ini mengingat tidak semua orang mendapatkan akses yang mudah untuk mengunjungi layanan profesional kesehatan mental,” ucap psikolog Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Adiyana Eka yang akrab disapa Mbak Iput.

Mbak Iput mengingatkan bahwa adanya layanan konseling sebaya tidak dapat dijadikan pengganti bagi layanan psikologi profesional karena ada batasan tertentu bagi konselor sebaya untuk melakukan pelayanan pada konseli. Batasan tertentu tersebut seperti, konselor sebaya yang tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan yang mungkin saja sangat diperlukan oleh konselinya dan hanya dapat merujuk ke tenaga profesional. Selain itu, perbedaan yang paling jelas dari konselor sebaya dan profesional terletak pada kewenangannya. Konselor profesional dapat memberikan diagnostik pada konselinya, sedangkan konselor sebaya tidak. Dalam kasus tertentu, diagnostik sangatlah diperlukan untuk mengetahui masalah dan cara mengatasinya. Oleh karena itu, ada baiknya untuk tetap mencoba mendapatkan layanan psikologi profesional apabila dibutuhkan.

Layanan konseling sebaya dengan konselornya yang berumur sama atau dekat dengan konseli diharapkan membuat konseli lebih nyaman untuk melakukan konseling. Mbak Iput berpendapat bahwa program konseling sebaya dapat membantu konseli mengurangi keraguan untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi. “Konselor sebaya juga bisa saja merujuk konseli ke tenaga profesional jika diperlukan, agar konseli bisa mendapatkan penanganan yang lebih profesional tentunya dan mendapatkan diagnosis nantinya,” papar Aridho Dzifly, mahasiswa FH UI 2021, terkait tindakan yang dapat dilakukan konselor sebaya. Selain itu, konselor sebaya juga pasti telah dibekali dengan pelatihan dari konselor profesional. Jadi, jangan ragu untuk bertemu dengan konselor sebaya, ya!

Dalam lingkungan kampus UI, terdapat beberapa layanan konseling sebaya yang siap untuk membantu permasalahan kesehatan mental mahasiswa. Salah satunya adalah dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi UI, yakni PSYHOPE yang menyediakan pelayanan konseling sebaya untuk Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI. Selain itu, di FH UI sendiri, telah hadir program Teman Pendengar, yakni program layanan konseling sebaya untuk IKM FH UI yang memerlukan bantuan dalam masalah kesehatan mentalnya. “Konselor sebaya yang bertugas ini adalah peer dari konseli,” ujar Aridho menjelaskan konselor sebaya dari program Teman Pendengar. Perlu diingat bahwa konselor sebaya bukanlah tenaga profesional. “Walaupun konselor sebaya juga mengikuti pelatihan, bukan berarti dia menjadi tenaga profesional. Pelatihan ini memang pembekalan saja kepada mereka sebagai kualifikasi untuk menjalankan tugas di layanan konseling sebaya,” tutur Aridho.

Hadirnya program Teman Pendengar bersama dengan berbagai layanan konseling sebaya lainnya, seperti PSYHOPE, menambah pilihan bagi mahasiswa untuk menghadapi permasalahan kesehatan mentalnya. Layanan konseling tersebut juga diharapkan dapat memberikan manfaat dan membantu mereka yang memang membutuhkan tempat mencurahkan perasaan. “Kita berharap layanan ini bisa meninggalkan kesan pada setiap orang. Kita ingin menyadarkan bahwa setiap cerita mereka berharga sehingga jangan ragu untuk mulai bercerita, jangan ragu untuk mulai mencari bantuan,” jelas Aridho.

“Harapan dengan adanya peer counseling ini tentu saja ialah terciptanya akses yang lebih baik dan menyeluruh terhadap layanan kesehatan mental untuk mahasiswa, terutama di lingkungan FH UI sendiri,” ujar Mbak Iput. Selain itu, keberadaan konseling sebaya ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kesadaran mahasiswa terhadap berbagai isu kesehatan mental di sekitar.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang program konseling sebaya ini membuka akses untuk membantu menjaga kesehatan mental mahasiswa. Tidak hanya itu, konseling sebaya biasanya tidak dipungut biaya sehingga memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan bantuan untuk kesehatan mentalnya. Jadi, apabila kamu merasa memerlukan bantuan kesehatan mental, yuk, langsung saja hubungi layanan konseling sebaya!

40 views0 comments

Recent Posts

See All