Penghujung Satu Periode Kepengurusan: Terima Kasih dan Selamat Tinggal!

Oleh Melvina Indria dan M. Thoriq Classica


Demisioner atau yang biasa disebut dengan demis adalah kata yang tidak asing lagi bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Mengingat banyaknya organisasi yang ada di fakultas ini, tentu setiap tahunnya diperlukan adanya demis sebelum memulai regenerasi. Tidak terasa, sebentar lagi hampir seluruh organisasi di FH UI akan mengakhiri masa kepengurusannya di tahun 2022. Selama hampir satu tahun ini, telah banyak kegiatan dan program kerja (proker) yang dilaksanakan di lingkup FH UI. Kesuksesan kegiatan dan proker tersebut turut mewarnai perjalanan para pengurus organisasi dalam berorganisasi dari awal hingga di titik ini.

Baik staf maupun Badan Pengurus Harian (BPH) tentunya memiliki alasan dan ekspektasi yang diharapkan terhadap organisasi yang diikuti sebelum akhirnya berada di posisi saat ini. “Mau mencari pengalaman dan belajar cara memberkas juga. Terkhusus untuk Pers, Fotografi, Film, dan Musik FH UI (PERFILMA FH UI), gue mencari organisasi yang bisa menunjang minat dan bakat gue, intinya mau nge-band di FH UI dan nyari keluarga baru, hehe. Ekspektasi itu semuanya terpenuhi,” ucap Azaria Rahma Hasnah atau yang akrab disapa Aza, mahasiswa FH UI 2021. Saat ini, Aza menjadi staf dari tiga organisasi, salah satunya menjadi vokalis di Divisi Musik PERFILMA FH UI atau yang lebih dikenal dengan Rechtovibe. Hampir sama dengan Aza, Fadlan Maulana Pramudya atau akrab disapa Dylan, mahasiswa FH UI 2020 yang saat ini menjabat sebagai BPH di Asian Law Students’ Association Local Chapter Universitas Indonesia (ALSA LC UI) menyebutkan bahwa ekspektasinya adalah dapat mengeksekusi seluruh proker yang sudah direncanakan dengan matang dan bisa membangun suasana kekeluargaan dalam divisi. “Gue juga berekspektasi bisa ikut aktif di berbagai proker dan kenal lebih banyak orang,” ujar Dylan.

Banyak kegiatan yang telah sukses dilaksanakan selama hampir satu periode kepengurusan ini. Banyak pula pengalaman tidak terlupakan yang hanya dapat diperoleh dari masing-masing organisasi yang diikuti. Mulai dari persiapan menjalankan proker, penampilan, perlombaan, sampai akhirnya semua kegiatan tersebut sukses dilaksanakan. “Rasanya senang banget dan nggak terlupakan, seru, senang, dan sedih barengnya,” ujar Aza. Tidak hanya Aza, Dylan juga memiliki pengalaman yang luar biasa, mulai dari melakukan kegiatan yang bersifat sosial hingga berkesempatan mengikuti acara nasional sehingga dapat berinteraksi dengan universitas lain. “Kalau di divisi gue, kita banyak menjalankan proker yang bersifat sosial, yakni mengajarkan Bahasa Inggris ke anak-anak di panti asuhan. Senang sekali bisa membantu anak-anak yang mungkin tidak seberuntung kita. Ada saja tingkah lucu mereka yang memorable,” jelas Dylan. Ia menambahkan bahwa pada tahun ini, ia berkesempatan mengikuti banyak acara berlingkup nasional, di mana ia bisa berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai universitas yang berbeda.

Selain pengalaman, tentunya mahasiswa mencari manfaat yang dapat diperoleh di organisasi, baik itu manfaat yang sifatnya internal maupun eksternal. Bagi Dylan, dengan berorganisasi, ia bisa belajar mengatur jadwal dengan lebih baik, mengambil keputusan, dan bekerja di dalam tim terutama sebagai BPH. “Gue merasa lebih berkembang sebagai diri sendiri, di mana soft skills dan hard skills gue makin terasah,” ujar Dylan. Sama halnya dengan Dylan, Aza juga mengatakan bahwa melalui organisasi, ia jadi mempunyai lebih banyak teman dan memahami berbagai karakter yang dimiliki orang-orang. “Gue menjadi lebih pengertian dan belajar bersimpati dengan orang lain,” ujar Aza. Selain pertemanan, organisasi juga memberikan manfaat dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki anggotanya. Aza pun merasakan hal yang sama, “Pastinya juga mempengaruhi kemampuan, pengalaman, dan manajemen waktu gue, baik ketika menjalani proker, per-design-an, maupun skill menyanyi.”

Sepuluh bulan telah berjalan sejak dimulainya satu periode kepengurusan, telah banyak hal yang didapatkan oleh para pengurus organisasi. Apabila ditanya mengenai perasaan di akhir kepengurusan ini, tentunya tidak sedikit yang akan menjawab sedih, begitu pun dengan Aza, “Sedih dan senang di waktu yang sama, sedih karena harus berpisah sama teman-teman tercinta gue, senang karena akhirnya bisa rehat sebentar dari ke-hectic-an FH UI.” Sama halnya dengan Aza, dalam satu kepengurusan ini, Dylan juga merasakan campur aduk di antara senang dan sedih. “Rasanya campur aduk. Senang karena banyak banget pengalaman berharga yang gue alami di kepengurusan ini dan gue bisa ketemu partner BPH dan para staf yang udah gue anggap keluarga. Sedih karena akan kangen banget berada di satu kepengurusan bareng sama Abang, Mbak, dan teman-teman sekarang,” ujar Dylan. Namun, dibalik itu, masih ada harapan yang ingin dicapai pada sisa-sisa waktu kepengurusan ini. Aza berharap semua proker di tempat divisi ia berada berjalan dengan lancar dan sukses. “Yang terpenting, semoga pertemanan gue dengan teman-teman staf dan BPH di organisasi yang gue ikuti tetap terjaga,” tambah Aza.

Bergabung menjadi anggota dalam organisasi merupakan salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan pada masa kuliah. Pengalaman-pengalaman yang didapatkan dari organisasi turut mewarnai kehidupan perkuliahan, mulai dari senang, sedih, kesal, dan bahagia yang dilalui bersama. Terlebih, berorganisasi juga dapat memberikan manfaat dan bekal bagi mahasiswa di kehidupan pasca kuliah nanti. Menurut Aza, staffing di organisasi sangat worth it untuk menambah pengalaman, pertemanan, dan pembelajaran. Namun, pastikan bahwa organisasi yang akan diikuti benar-benar sesuai dengan keinginan masing-masing. “Intinya, banyak-banyak tanya pada diri sendiri dan sesuaikan dengan kapabilitas masing-masing,” saran Aza. Dylan juga mengatakan bahwa organisasi merupakan kesempatan emas untuk mengembangkan diri, menambah skill, dan memperbanyak relasi. “Carilah organisasi sesuai dengan minat kalian. Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru dan jalankan dengan sepenuh hati dan kerja keras,” pesan Dylan.

27 views0 comments