Satu Paruh Berlalu: Ini Pendapat IKM FH UI!

Oleh Andrea Basuki dan Raisha Inayah Dahlan


Organisasi berperan besar dalam kehidupan kampus sebagian besar mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI). Ada berbagai macam organisasi di FH UI, mulai dari organisasi yang berfokus dalam dunia hukum, organisasi yang berkiprah di berbagai macam perlombaan, hingga organisasi-organisasi yang menunjang kreativitas dari para anggotanya. Maka dari itu, tingginya jumlah mahasiswa FH UI yang menjadi anggota suatu organisasi bukanlah sesuatu yang mengagetkan lagi. Berbagai macam program kerja yang bermanfaat, unik, dan menarik dari tiap organisasi menjadi pemikat jitu yang berhasil membuat para mahasiswa FH UI mendaftarkan diri untuk menjadi bagian suatu organisasi. Tidak terasa, sudah setengah paruh berjalan semenjak dimulainya regenerasi dalam organisasi yang terdapat di FH UI. Hal ini ditandai dengan pengadaan Evaluasi Paruh Tahun (EPT) bagi seluruh anggota dalam tiap organisasinya.

Setiap anggota dalam sebuah organisasi memiliki harapan dan ekspektasi yang berbeda ketika memutuskan untuk berkomitmen dalam sebuah organisasi. Dengan menjadi bagian dari suatu organisasi, beberapa orang berharap akan mendapatkan rekan serta koneksi-koneksi baru, dapat membiasakan diri bekerja sama dengan orang lain, mengasah hard-skill dan soft-skill mereka di berbagai bidang, serta mendapatkan berbagai pengalaman lain yang tidak bisa didapatkan di kelas. Muhammad Alif Lathief, mahasiswa FH UI 2021, yang kini menjadi staf di berbagai organisasi di FH UI dan UI membagikan pendapatnya terkait ekspektasi mengenai organisasi. Ia berharap bahwa organisasi dapat menjadi tempat baginya untuk mencari pengalaman serta menggali ilmu yang tidak bisa didapatkan dalam kelas. Berbeda dengan Alif, Farsya Zahrayanti (FH UI 2020) yang tengah menjabat sebagai Badan Pengurus Harian (BPH) menceritakan ekspektasinya di awal kepengurusan. Saat ia pertama mendaftarkan diri menjadi seorang BPH, Farsya mengemban ekspektasi bahwa jabatannya yang lebih tinggi akan membawa tekanan yang lebih besar pula. Ia pun sempat mengkhawatirkan kekompakan anggota divisinya kelak. “Looking forward buat ketemu staf-staf baru and to work alongside all of them dengan harapan bisa bikin work environment-nya senyaman mungkin,” ujarnya saat ditanya mengenai harapannya saat itu.

Ternyata, setelah satu paruh berlalu, banyak dari harapan Alif maupun Farsya yang terpenuhi, lho. Alif berkata, “Teman berdiskusi lebih banyak, bisa dapet ilmu dari orang-orang yang berbeda pandangan, bisa melatih soft skill baru.” Di sisi lain, Farsya yang menjabat sebagai BPH mengungkapkan pengalaman bekerjanya dengan para staf, “Stafnya bisa diajak seru-seruan, tapi tetap bisa menjaga professionalism di waktunya dan walaupun mereka bisa akrab, mereka nggak sama sekali jadi meremehkan BPH when it comes to work,” tutur Farsya. Farsya juga mengungkapkan bahwa kekhawatirannya tidak terbukti karena staf dan ketiga BPH lainnya ternyata friendly dan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan sangat baik. Di sisi lain, Farsya juga merasa bahwa dirinya telah berkembang dengan pesat menjadi individu yang lebih baik, “Dimulai dari improvement of my accountability towards my division, ketelitian, sampai dengan social aspects, such as understanding other people’s boundaries.”

Tentunya banyak sekali pengalaman unik yang bisa terjadi dalam kurun waktu satu paruh ini, seperti yang dialami oleh Farsya. Walaupun tidak ada pengalaman spesifik yang ia bisa sebutkan, ia mengaku kaget akan selera humor para staf dan BPH yang ternyata selaras. Sementara itu, Alif menceritakan pengalaman uniknya saat mengikuti aksi yang merupakan salah satu aktivitas dari organisasi yang ia ikuti. Ia merasa canggung ketika bertemu dengan temannya yang berprofesi sebagai polisi dan jurnalis di tengah aksi. Alif juga menceritakan pengalaman unik lainnya, yakni saat diinterogasi ketika ingin melakukan aksi Kamisan. “Aku nanya arah ke tempat aksi Kamisan kepada tentara gitu, ‘kan, dan kebetulan juga habis ada aksi buruh. Lalu aku dikelilingi tentara dan diinterogasi sama komandannya karena disangka massa dari aksi buruh.”

Selama setengah tahun berorganisasi, terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi. Farsya memberikan salah satu contoh terkait tantangan dan pelajaran yang bisa diambil, yakni cara berkomunikasi ke orang lain dengan cara yang jelas dan bisa memberikan constructive criticism. Alif turut menceritakan tantangannya selama berorganisasi, yaitu manajemen waktu dan penyesuaian diri. “Harus bisa ngatur waktu biar nggak keteteran antara organisasi dan akademis, selain itu harus bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan karena background teman-teman kita di organisasi dan kuliah, tuh, beda-beda, tidak seperti waktu sekolah dulu,” ujar Alif.

Seperti yang diungkit sebelumnya, telah berjalannya satu paruh ditandai dengan banyaknya organisasi yang menyelenggarakan EPT. EPT sendiri dilaksanakan sebagai bentuk evaluasi mengenai bagaimana organisasi berjalan serta kinerja orang-orang yang tergabung dalam organisasi selama separuh tahun. Farsya memberikan pendapatnya perihal pentingnya EPT, “Penting banget karena dari EPT nggak cuma untuk evaluasi kesalahan untuk diperbaiki tapi juga bikin lebih aware sama strength kita yang perlu dipertahankan lagi, yang mungkin sebelumnya bahkan kita sendiri nggak sadar kita punya.” Tegas Farsya. Untuk kedepannya, Farsya berharap agar satu paruh yang akan datang berjalan selancar paruh awal. Bagi Alif, EPT merupakan hal yang penting agar organisasi dan individu bisa berkembang menjadi lebih baik. Terakhir, Alif mengungkapkan harapannya terkait adanya EPT, “Agar ada kritik atau saran dari orang lain terutama orang-orang yang kerja bareng kita dan bisa membenahi diri juga. Kita di organisasi bukan kerja buat diri sendiri aja, ya, tetapi buat orang lain juga.”

Satu paruh kepengurusan organisasi telah berlalu, kini saatnya mengevaluasi kinerja seluruh pihak yang bekerja dalam organisasi melalui EPT. Melihat pendapat dari kedua IKM FH UI di atas, kita mengetahui bahwa EPT tidak hanya untuk evaluasi kinerja saja, tetapi juga dapat menjadikan organisasi dan individu berkembang dengan baik. EPT sejatinya memiliki fungsi agar kita mengetahui apa saja yang menjadi apresiasi dan evaluasi selama satu paruh kebelakang agar kita bisa bekerja secara lebih efektif untuk paruh selanjutnya.

44 views0 comments

Recent Posts

See All